Sumpah Pemuda

Gelora Jiwa Perlu di jaga, bila tidak kau kan celaka.
Kerja adalah cinta. karena itu kau bawa sampai tua.
Cinta hal biasa, cukup kau pandai mengelola tidak akan kau di jebaknya.
Akalmu perlu dibawa pergi, asah sana-sini . Rasakan nanti bersandar kau di atas kursi.
Waktumu tak lama, sedang sejuta-juta masalah menanti.
Ragamu tak abadi, kau kejar pula hal-hal tak pasti.
Sebab buyaku berkata : “Bebanmu akan berat. Jiwamu harus kuat. Tapi aku percaya langkahmu akan jaya. Kuatkan PRIBADImu.”

 

Balada Indonesia

14.500 rupiah harga mati pencekat ekonomi

Setahun berselang terjun bebas ke bumi

Entah sampai kapan jatuh ke permukaan,

Mengguncang kami rakyat jelata yg tak mengerti apa-apa

 

Satu tahun berjalan angka tujuh bertahan

Tak ada persoalan, tenang melenggang layaknya air telaga

Hening..sepi tenang sekali

Tak ada ribut sana-sini pandai sekali meredam bunyi

Ucapnya seperti sabda yg menenangkan hati

Padahal, Nol Besar tak terbukti

Tapi entah kenapa sekali lagi, sepi…

Tak ada persoalan, tenang melenggang layaknya air telaga

 

Kau tahu..,

Sebentar lagi tikus berdasi merdeka

Dengan adannya RUU KPK

Adakah suara??

Sekali lagi, sepi

Tak ada persoalan, tenang melenggang layaknya kerbau bisu

Kami rakyat biasa tak mengerti apa-apa

Hanya mengerti mencari sesuap nasi tuk esok hari

Dan terima jadi. Dengan adanya KIS, KIP, KTP atau apalah namanya..

Tanpa mengerti kemungkinan pembodohan terjadi

 

Pemimpin kami tak buta

Iapun tak tuli mendengar kami

Mungkin hatinya belum terbuka mendapat cahaya

Yang sayangnya cahaya itu tak akan masuk sebelum ia bersuci diri

Barulah nampak kebenaran yg terjadi dengan cahaya itu

Terang benderang menyingkap penglihatan sebab asap

Ekonomi tak pasti

Tragedi sana sini serta Moral rakyat yg terlewat sangat.

Sampaikapan tuan membawa kami terombang-ambing

Tidak ada kepastian hanya berharap angan

Miskin harta tidaklah mengapa

Tapi kini kamipun miskin iman serta akhlak

 

Bertubi-tubi musibah hilir mudik menimpa negri ini

Berharap tuhan belum murka terhadap kita semua

Karena ridho dan kasih sayang-Nya kita masih diberi karunia

Sebelum terlambat masa pengahabisan datang

Pupuk cahaya dalam setiap insan bangsa

Menuju hakikat sebenarnya

Rakyat Jelata

 

Kedaulatan rakyat

Kita bicara merdeka, tetapi masih terjajah

Kita bicara demokrasi, tetapi korupsi sana sini

Kita bicara sejahtera, tetapi gemar sekali usir kami

Kita bicara keadilan, keadilan yang mana??

 

Isu menjadi berita. Sedang fakta diam saja.

Kasus datang silih berganti, hanya naik di permukaan

Entah dalamnya tak nampak ditelusur

Gemar sekali..mengangakat, mengubur kembali

 

Ini zaman demokarasi

Hak bersuara bebas disampaikan, selama santun jadi pedoman

Ini tetang reklamasi, penggusuran kami, tentang keadilan yg dicari

Bernarkah keadilan itu tegak di bumi pertiwi??

Atau hanya permainan sandiwara para petinggi negri

Nama rakyat jadi rebutan

Jual sana jual sini,untung tak di dapat buntung sengsara rakyat jelata

 

Untuk siapa ini semua?

Kami yang miskin justru terusir

Mana kedaulatan takyat yg dibela

Gusur sana sini menjadi solusi daulat rakyat sejahtera?

Rintih kami Rakyat jelata….

 

Negri di Ujung Tanduk

Negri di ujung tanduk

Saat hiruk pikuk tak berbentuk

Bangsa semakin terpuruk

Sedang disana orang-orang bertepuk

 

Negri di ujung tanduk

Ketika ulama menjadi tersangka

Harus kemana umat bertanya??

Tidak ada percaya, karena mulianya dihina

Padahal mereka orang-orang yg menjaga

Baik diri, keluarga, agama berlebih negara

 

Negri di ujung tanduk

Kepercayaan itu diberi, bukan diminta lantas dilepas

Perlu dijaga karena rakyat tidak buta

Rakyat awas situasi kondisi

Tetua kami pun gelisah, apa gerangan yg terjadi

Masa lalu, sekarang dan masa depan

Negri di ujung tanduk

Menjunjung tinggi adil

Adil itu menempatkan sesuatu pada tempatnya

Berimbang dalam nalar dan sadar

Berlebih sedikit ke kanan ataupun kiri menghilangkan rasa, menghapus percaya

Karena keadilan kuasa, kecintaan rakyatnya

 

Negri diujung tanduk

Bukan akhir dari segala

Sebab salah dapat diperbaiki

dosa pun bisa diampuni

Bersyarat mengakui kesalahan diri

Berdamai dengan hati

Merangkul kembali kebenaran hakiki

Sedikit malu tak mengapa asal jujur terpelihara

Hanya lelah yg didapat, dari sandiwara semu

Seiring berjalan tenaganya kan habis bersama waktu