Apartemen VS Rumah

 

Sore itu saya berangkat menuju sebuah apartemen. Ada hal yg perlu diurus. Penasaran juga seperti apa rasanya berada di apartemen. Seperti apa rupanya, cantik kah? Apakah lebih nyaman dibandingkan dengan rumah?. Bukan tanpa sebab berbagai pertanyaan bergelayut dalam benak. Karena abad modern saat ini di zaman milenial, terutama di kota besar apartemen bukan hal tabu. Justru menjadi primadona. Tentu ini menjadi tanda Tanya besar terutama bagi diri sendiri, apa bagusnya apartemen? Ko, banyak sekali orang berlomba-lomba tinggal disana. Bukan hanya itu, para pelaku bisnis dalam hal ini developer property begitu semangat membangun tower-tower menjulang tinggi. Tak lain dan tak bukan ialah membangun hunian (apartemen}.

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) arti Apartemen sendiri adalah “tempat tinggal yg berada paada 1 lantai bangunan bertingkat, terbagi dalam beberapa tempat dilengkapi dengan berbagai macam fasilitas di lingkungannya.” Bila merujuk dari sini Nampak benar adanya sebagaimana penglihatan lngsung saya. Ternyata dalam beberapa lantai ada beberapa rungan yg itu menjadi hunian bagi beberapa orang dengan ukuran yg berbeda-beda. Ada pula fasilitas olahraga sepeerti tempat gym, lapangan dan kolam renang. Di bilang mewah bisa jadi. Tp hemat saya ini tidak beda jauh dengan rumah susun. Hanya berbeda dalam strata fasilitas, ukuran rungan dan gaya hidup penghuninya. Justru yg menarik dari sebuah apartemen, ialah tempat ibadah (mushola) yg apa adanya layaknya di mal plus sepi peminat. (mungkin ini hanya di apartemen yg saya kunjungi)

Biarlah, dari semua keterangan di atas saya ingin mengkomparisikan apartemen dengan rumah sebagaimana judulnya. Walaupun sedikit ekstrim dengan kata versus tapi ini hanya refleksi sekaligus kita mengemukakan kelebihan serta kekurang dari keduanya (versi pribadi) yg nanti bisa menjadi rujukan bagi kalian dalam memilih sebuah hunian atau menjadi bahan diskusi.

Merujuk dari pengertian diatas, ada suatu kesamaan antara apartemen dengan rumah. Yaitu, tempat tinggal (hunian). Sejatinya baik apartemen atau rumah hakikatnya adalah tempat bernaung dan berlindung. Perbedaan diantara satu dengan yg lain ialah pada letak geografisnya saja. Rumah, sebagaimana kita ketahui bersama berdiri diatas tanah (Horizontal) dengan bangunan tingkat maupun tidak. Sedangkan apartemen tidak semua berdiri langsung di atas tanah (Vertikal). Hanya pada bagiannya saja dan selanjutnya lantai-lantai yg dibuat ruang sesuai dgn kebutuhan. Hal yg tidak saya sukai di apartemen ialah bilamana kita di haruskan naik ke atas, serta berjalan d lorong-lorong dgn sepinya. Kemudian komunikasi antar penghuni yg hanya bersebelan, mungkin saja jarang terjadi. Kemudian tidak sebebas apabila kita berada di rumah.keamanan, naik turun lift/pindah lantai harus menggunakan kartu (demi keamanan) bagus sih, tp itu td bagi saya sepertinya kurang cocok. Kl ketinggalan bagaiman? Nggak kebayang pinjem dulu minta tolong dll. Sekali lagi, ini hanya pendapat pribadi, apartemen lebih cocok menjadi tempat beristirahat. Sebab lebih tenang dan rileks sebagaimana kita tinggal di hotel (memang seperti hotel). Bukan sebagai hunian yg kita perlu berinteraksi, komunikasi dgn tetangga membangun kerukunan tetangga dll. Apartemen lebih terisolasi dan cocok, sekali lagi saya katakana sebagai tempat persinggahan untuk istirahat setelah seharian penat bekerja.

Sedangkan rumah,(saya lebih memilihnya) sebagaimana di jelaskan di atas lebih bersosial, dan interaksi satu dengan yang lainnya terjalin. Koneksifitas antar rumah satu dengan yg lainnya lebih nyaman (versi saya) dibandingkan dengan apartemen. Kemudian dari sisi ibadah, saya sebagai muslim lebih nyaman hunian rumah. Karena di apartemen sendiri di buat seadanya. Bahkan muslim yg tinggal di apartemen kebanyakan sholat di kamarnya. Jarang ke masjid/mushola karena memang kurang di fasilitasi oleh pengembang (apartemen yg saya datangi). dari segi harga, keduanya tidak jauh berbeda oleh sebab itu saya tidak membahasnya. hanya mengupas sedikit dari sisi sosial.

Iya, itulah sedikit review bagi kalian yg mau mencari hunian. Suka tidak suka tergantung selera kalian. But this my opinion.

Ok mungkin itu saja, terima kasih.

Sumpah Pemuda

Gelora Jiwa Perlu di jaga, bila tidak kau kan celaka.
Kerja adalah cinta. karena itu kau bawa sampai tua.
Cinta hal biasa, cukup kau pandai mengelola tidak akan kau di jebaknya.
Akalmu perlu dibawa pergi, asah sana-sini . Rasakan nanti bersandar kau di atas kursi.
Waktumu tak lama, sedang sejuta-juta masalah menanti.
Ragamu tak abadi, kau kejar pula hal-hal tak pasti.
Sebab buyaku berkata : “Bebanmu akan berat. Jiwamu harus kuat. Tapi aku percaya langkahmu akan jaya. Kuatkan PRIBADImu.”

 

Balada Indonesia

14.500 rupiah harga mati pencekat ekonomi

Setahun berselang terjun bebas ke bumi

Entah sampai kapan jatuh ke permukaan,

Mengguncang kami rakyat jelata yg tak mengerti apa-apa

 

Satu tahun berjalan angka tujuh bertahan

Tak ada persoalan, tenang melenggang layaknya air telaga

Hening..sepi tenang sekali

Tak ada ribut sana-sini pandai sekali meredam bunyi

Ucapnya seperti sabda yg menenangkan hati

Padahal, Nol Besar tak terbukti

Tapi entah kenapa sekali lagi, sepi…

Tak ada persoalan, tenang melenggang layaknya air telaga

 

Kau tahu..,

Sebentar lagi tikus berdasi merdeka

Dengan adannya RUU KPK

Adakah suara??

Sekali lagi, sepi

Tak ada persoalan, tenang melenggang layaknya kerbau bisu

Kami rakyat biasa tak mengerti apa-apa

Hanya mengerti mencari sesuap nasi tuk esok hari

Dan terima jadi. Dengan adanya KIS, KIP, KTP atau apalah namanya..

Tanpa mengerti kemungkinan pembodohan terjadi

 

Pemimpin kami tak buta

Iapun tak tuli mendengar kami

Mungkin hatinya belum terbuka mendapat cahaya

Yang sayangnya cahaya itu tak akan masuk sebelum ia bersuci diri

Barulah nampak kebenaran yg terjadi dengan cahaya itu

Terang benderang menyingkap penglihatan sebab asap

Ekonomi tak pasti

Tragedi sana sini serta Moral rakyat yg terlewat sangat.

Sampaikapan tuan membawa kami terombang-ambing

Tidak ada kepastian hanya berharap angan

Miskin harta tidaklah mengapa

Tapi kini kamipun miskin iman serta akhlak

 

Bertubi-tubi musibah hilir mudik menimpa negri ini

Berharap tuhan belum murka terhadap kita semua

Karena ridho dan kasih sayang-Nya kita masih diberi karunia

Sebelum terlambat masa pengahabisan datang

Pupuk cahaya dalam setiap insan bangsa

Menuju hakikat sebenarnya

Lanjut Usia

Desah nafasnya memburu waktu

Detak jantung pun cepat berderu

Tangan membentang menangkap angan

Begitupun langkah kaki terpatah-patah jatuh ke bumi

 

Dulu kau gagah perkasa berdiri

Menepuk dada dengan bangga

Mendongak perkasa memandang dunia

Lantang bersuara membahana

Itu dulu..dulu saat kau memiliki umur yg cukup dalam bertindak

Muda…masa prilaku teruji

Muda…saat kau dulu bermain hati

Muda…penuh dengan gairah emosi

Muda….masa mu telah berlalu dariku

 

Yg terjadi saat ini hanya umur mendampingi

Tindakmu dulu menjadi cerminan kini

Senyum indah hadiah tetes keringat pengorbanan

Sedang penyesalan pengetahuan atas tindakan

Lanjut usia…

Tidak lagi muda, perkasa, bangga dengan kelebihan yg ada

Akhirnya di penghujung dunia

Kembali pula kepada yg kuasa

Sial kau masa muda telah memberikan posisi saat ini

Bahagia sengsara ada dalam genggamanmu

Kini hanya lanjut usia…

Selamat tinggal muda

Rakyat Jelata

 

Kedaulatan rakyat

Kita bicara merdeka, tetapi masih terjajah

Kita bicara demokrasi, tetapi korupsi sana sini

Kita bicara sejahtera, tetapi gemar sekali usir kami

Kita bicara keadilan, keadilan yang mana??

 

Isu menjadi berita. Sedang fakta diam saja.

Kasus datang silih berganti, hanya naik di permukaan

Entah dalamnya tak nampak ditelusur

Gemar sekali..mengangakat, mengubur kembali

 

Ini zaman demokarasi

Hak bersuara bebas disampaikan, selama santun jadi pedoman

Ini tetang reklamasi, penggusuran kami, tentang keadilan yg dicari

Bernarkah keadilan itu tegak di bumi pertiwi??

Atau hanya permainan sandiwara para petinggi negri

Nama rakyat jadi rebutan

Jual sana jual sini,untung tak di dapat buntung sengsara rakyat jelata

 

Untuk siapa ini semua?

Kami yang miskin justru terusir

Mana kedaulatan takyat yg dibela

Gusur sana sini menjadi solusi daulat rakyat sejahtera?

Rintih kami Rakyat jelata….

 

Mereka bukan Kami

Mereka bukan kami

Mereka hanyalah benalu dalam rimbunya pohon

Menyerap sendi kehidupan diri

Menggangu, merusak layaknya benalu

Mereka bukan kami

Mereka seperi amuba

Mebelah diri menjadi dua

Secara jasad maupun hakikat, serba mendua

Tak tahu pasti apa yg ada dalam diri

Berkata “ini” di waktu pagi

Berkata “itu” tatkala kelabu

Menaruh benci dibelakang kami

Mereka bukan kami

Yang mengaku tuhan Satu

Meyakini Muhammad penutup nabi

Para sahabat merupakan pejuang hebat

Allah ridho terhadap mereka begitupun sebaliknya

Catatan indah kalam ilahi

Mereka bukan kami

Adakah jiwa yg membunuh dirinya sendiri??

Mereka bukanlah manusia, yg memperkosa wanita dihadapan anak suami

Mereka tak mengerti ajaran nabi yg tidak memperkenankan membunuh jiwa suci.

Mereka hanyalah budak nafsu. Sekutu thogut

Tidak ada hak bagi mereka berdiri dimuka bumi

Kami mengutuk. Kami berdo’a, semoga Allah memberi balas-Nya

Saudaraku..

Serulah HAQ ialah HAQ

Dan BATHIL adalah BATHIL

Mereka nyata buat kita

Mereka diam untuk menyergap

Sadarlah..

Bangunlah…

Akhir zaman telah menanti

Bumi syam meminta janji

Sadarlah..

Bangunlah…

UMAT MUSLIM DUNIA

Negri di Ujung Tanduk

Negri di ujung tanduk

Saat hiruk pikuk tak berbentuk

Bangsa semakin terpuruk

Sedang disana orang-orang bertepuk

 

Negri di ujung tanduk

Ketika ulama menjadi tersangka

Harus kemana umat bertanya??

Tidak ada percaya, karena mulianya dihina

Padahal mereka orang-orang yg menjaga

Baik diri, keluarga, agama berlebih negara

 

Negri di ujung tanduk

Kepercayaan itu diberi, bukan diminta lantas dilepas

Perlu dijaga karena rakyat tidak buta

Rakyat awas situasi kondisi

Tetua kami pun gelisah, apa gerangan yg terjadi

Masa lalu, sekarang dan masa depan

Negri di ujung tanduk

Menjunjung tinggi adil

Adil itu menempatkan sesuatu pada tempatnya

Berimbang dalam nalar dan sadar

Berlebih sedikit ke kanan ataupun kiri menghilangkan rasa, menghapus percaya

Karena keadilan kuasa, kecintaan rakyatnya

 

Negri diujung tanduk

Bukan akhir dari segala

Sebab salah dapat diperbaiki

dosa pun bisa diampuni

Bersyarat mengakui kesalahan diri

Berdamai dengan hati

Merangkul kembali kebenaran hakiki

Sedikit malu tak mengapa asal jujur terpelihara

Hanya lelah yg didapat, dari sandiwara semu

Seiring berjalan tenaganya kan habis bersama waktu

Pertemuan antara Aku & Kamu

Waktu petang datang di tempat petemuan

Di sana tempat yg menjadi saksi pertemuan

Dikala lelah aktivitas pagi, rela kau bertemu diri

Diam membisu dari keramaian waktu

Sembari khidmat menunggu panggilan robbi

Daku utarakan maksud hati padamu

Waktu mustajab diantara pergantian waktu

Dalam lirih Do’aku berdo’a

Menunggu jawab didepan mata

 

Dayung pun bersambut,

Maksud hati bersambut baik, tidak bertepuk sebelah tangan seperti kebanyakan orang

Alhamdulillah….Waktu mustajab diantara pergantian waktu terkabul

Puji syukur pada-Mu mengabulkan maksud pertemuan ini

 

Waktu pun terus berlalu meninggalkan kata, detik, dan menit

Pertemuan pun usai, membawa sedikit rasa pada masing-masing jiwa

Sedikit bahagia, terkejut, dan haru bercampur jadi satu diantara cepatnya waktu

Masing-masing pergi dengan membawa rasanya..

Menunggu bagaimana kelanjutan Skenario dari-Nya